Rarangkén Panyiku
-la- · U+1BA3 · di bawah aksara
Panyiku menyisipkan bunyi /la/ setelah konsonan. Misalnya ka (ᮊ) menjadi kla (ᮊᮣ).
Informasi Singkat
Fungsi & Penggunaan
Menyisipkan konsonan /la/ di tengah suku kata. Rarangkén ini ditempatkan di bawah aksara.
Contoh Penerapan
Berikut Panyiku diterapkan pada beberapa aksara ngalagena:
Seluruh bentuk di atas dibangun dari aksara dasar ditambah tanda rarangkén — bukan karakter baru.
Unicode & Informasi Teknis
Rarangkén ini adalah combining mark dalam blok Sundanese (U+1B80–U+1BBF), ditambahkan pada Unicode 5.1 (2008).
| Properti | Nilai | |
|---|---|---|
| Karakter | ᮣ | |
| Codepoint | U+1BA3 | |
| Desimal | 7075 | |
| Heksadesimal | 0x1BA3 | |
| UTF-8 (hex) | E1 AE A3 | |
| UTF-16 (hex) | 1BA3 | |
| HTML Entity | ᮣ | |
| CSS Escape | \1BA3 | |
| Blok Unicode | Sundanese (U+1B80–U+1BBF) | |
| Versi Unicode | 5.1 (2008) |
Catatan Penulisan
Panyiku menyisipkan bunyi /la/ setelah konsonan. Misalnya ka (ᮊ) menjadi kla (ᮊᮣ).
Kesalahan Umum
- Tertukar dengan Panyakra (ᮢ) atau Pamingkal (ᮡ) karena bentuknya mirip.
- Salah menempatkan posisi tanda — Panyiku seharusnya ditulis di bawah aksara dasar.
- Menuliskannya berdiri sendiri. Rarangkén selalu menempel pada aksara ngalagena, tidak pernah sendirian.
- Salah tombol saat mengetik, sehingga menghasilkan rarangkén lain yang bunyinya berbeda.
Perbandingan dengan Karakter Serupa
| Karakter | Bunyi / Fungsi | Dibandingkan | Bunyi / Fungsi |
|---|---|---|---|
| Panyiku ᮣ | Menyisipkan konsonan /la/ di tengah suku kata. | Panyakra ᮢ | Menyisipkan konsonan /ra/ di tengah suku kata. |
| Panyiku ᮣ | Menyisipkan konsonan /la/ di tengah suku kata. | Pamingkal ᮡ | Menyisipkan konsonan /ya/ di tengah suku kata. |
Dukungan Digital & Font
Karakter Rarangkén Panyiku memakai Unicode standar (U+1BA3), sehingga dapat disalin ke dokumen, presentasi, dan media sosial tanpa berubah. Yang menentukan apakah ia tampil benar bukanlah peramban, melainkan ketersediaan font aksara Sunda di perangkat pembaca.
Tampil setelah font aksara Sunda dipasang (mis. Noto Sans Sundanese). Tanpa font, muncul kotak atau lingkaran bertitik.
Sebagian besar versi modern mendukung setelah font terpasang; beberapa peranti belum menyertakannya secara bawaan.
Chrome, Firefox, Safari, dan Edge menampilkan karakter ini dengan benar bila font tersedia, baik terpasang di sistem maupun dimuat sebagai web font.
Noto Sans Sundanese (Google), serta font Sundanese Unicode lain yang mencakup blok U+1B80–U+1BBF.
Latar Sejarah
Aksara Sunda berakar pada aksara Pallawa dari India Selatan, yang menyebar ke Nusantara dan berkembang menjadi aksara Sunda Kuno sejak sekitar abad ke-14. Bentuk yang dipakai hari ini adalah Aksara Sunda Baku, hasil standardisasi yang disepakati Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 1997 untuk keperluan pendidikan dan pelestarian.
Pada April 2008, aksara Sunda memperoleh blok resmi dalam Unicode (U+1B80–U+1BBF, versi 5.1), sehingga dapat dipakai secara digital di komputer, ponsel, dan web — termasuk di translator situs ini. Kini aksara Sunda diajarkan sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah Jawa Barat.
Catatan: latar sejarah ini berlaku untuk sistem aksara secara keseluruhan, bukan riwayat masing-masing karakter secara terpisah.
Karakter Terkait
Pertanyaan tentang Panyiku
Panyiku menyisipkan bunyi /la/ setelah konsonan. Misalnya ka (ᮊ) menjadi kla (ᮊᮣ).
Menyisipkan konsonan /la/ di tengah suku kata.
Rarangkén Panyiku ditempatkan di bawah aksara.
Kode Unicode-nya U+1BA3 (SUNDANESE CONSONANT SIGN PANYIKU), sebuah combining mark dalam blok Sundanese.
Rarangkén adalah tanda gabung yang tidak berdiri sendiri. Lingkaran bertitik (◌) adalah placeholder standar Unicode; pada penggunaan nyata, tanda ini menempel pada aksara ngalagena.
Rujukan
- The Unicode Standard — blok Sundanese, U+1BA3 (SUNDANESE CONSONANT SIGN PANYIKU), Unicode 5.1 (2008).
- Aksara Sunda Baku — 13 rarangkén resmi, ditetapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (1997).
Diperbarui: